KONSEP DASAR PENDIDIKAN SENI RUPA
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS
MATAKULIAH
Pendidikan Seni Rupa
Dan Kerajinan Tangan
Yang Dibina oleh M.
Reyhan Florean, M. Pd
Oleh Kelompok 8:
1.
Lya Dhifa Nahari 15186206167
2.
Mey Rahayuningsih 15186206170
3.
Rizki Fredia 15186206179
4.
Frenty Wulandari 15186206189

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI
TULUNGAGUNG
NOPEMBER 2016
KONSEP DASAR PENDIDIKAN SENI RUPA
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS
MATAKULIAH
Pendidikan Seni Rupa
Dan Kerajinan Tangan
Yang Dibina oleh M.
Reyhan Florean, M. Pd
Oleh Kelompok 8:
1. Lya Dhifa Nahari 15186206167
2. Mey Rahayuningsih 15186206170
3. Rizki Fredia D. 15186206179
4. Frenty W. 15186206189
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI
TULUNGAGUNG
NOPEMBER 2016
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “Konsep Dasar
Pendidikan Seni Rupa” tanpa halangan apapun.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai
pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1.
Ibu
Rahayu Setiani, M. Pd, selaku Kepala Program Studi Pendidikan Guru Sekolah
Dasar yang telah memberikan kesempatan dan memberi fasilitas sehingga makalah
ini dapat selesai dengan lancar.
2.
Bapak
M. Reyhan Florean, M. Pd, selaku dosen mata kuliah pendidikan seni
rupa dan kerajinan tangan
yang telah memberi kesempatan dan memfalitasi sehingga makalah ini selesai
dengan lancar.
3.
Orangtua
dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam pembuatan makalah ini.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat
bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya. Penulis mengharapkan saran dan kritik
yang bersifat membangun demi perbaikan ke arah kesempurnaan. Akhir kata penulis sampaikan terimakasih.
Trenggalek, 9 Nopember 2016
Penulis,
DAFTAR 1SI
Lembar Judul.................................................................................................... i
Kata Pengantar.................................................................................................. ii
Daftar Isi........................................................................................................... iii
PENDAHULUAN........................................................................................... 1
A.
Latar
Belakang............................................................................................ 1
B.
Rumusan
Masalah....................................................................................... 2
C.
Tujuan......................................................................................................... 2
PEMBAHASAN.............................................................................................. 3
A.
Pengertian
Seni........................................................................................... 3
B.
Fungsi
Seni................................................................................................. 5
C.
Seni
sebagai Media Pendidikan................................................................. 7
D.
Pendekatan
Berbasis Disiplin Ilmu dalam Pendidikan Seni Rupa............. 8
PENUTUP........................................................................................................ 10
A.
Kesimpulan................................................................................................. 10
B.
Saran........................................................................................................... 10
DAFTAR RUJUKAN...................................................................................... 11
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pendidikan Seni dipakai sebagai mata pelajaran pada
pendidikan sekolah didasarkan pada pemikiran bahwa, pertama, pendidikan seni
memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual
berarti melalui pendidikan seni dikembangkan kemampuan mengekspresikan diri
dengan berbagai bahasa rupa, bunyi, gerak, dan paduannya. Multidimensional
berarti dengan seni dapat dikembangkan kompetensi dasar anak yang mencakup
persepsi, pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi, dan produktivitas
dalam menyeimbangkan fungsi otak kanan dan kiri, dengan memadukan unsur logika,
etika dan estetika. Multikultural berarti pendidikan seni bertujuan
menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap keragaman
budaya lokal dan global sebagai pembentukan sikap menghargai, toleran,
demokratis, beradab, dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya yang majemuk
(Depdiknas 2001:7). Pendidikan seni meliputi semua bentuk kegiatan tentang
aktivitas fisik dan nonfisik yang tertuang dalam kegiatan berekspresi,
bereksplorasi, berkreasi dan berapresiasi melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan
peran. (Rohidi 2000:7). Melalui pendidikan seni anak dilatih untuk memperoleh
keterampilan dan pengalaman mencipta yang disesuaikan dengan lingkungan alam
dan budaya setempat serta untuk memahami, menganalisis, dan menghargai karya
seni. Tegasnya pendidikan seni di sekolah dapat menjadi media yang efektif
dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan sensitivitas
anak.
Tujuan pendidikan seni juga dapat
dilihat sebagai upaya untuk mengembangkan sikap agar anak mampu berkreasi dan
peka terhadap seni atau memberikan kemampuan dalam berkarya dan berapresiasi
seni. Kedua jenis kemampuan ini menjadi penting artinya karena dinamika
kehidupan sosial manusia dan nilai-nilai estetis mempunyai sumbangan terhadap
kebahagiaan manusia disamping mencerdaskannya.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa
yang dimaksud dengan seni?
2.
Apa
saja fungsi seni?
3.
Bagaimana
peran seni sebagai media pendidikan?
4.
Bagaimana
pendekatan berbasis disiplin ilmu dalam pendidikan seni rupa?
C. Tujuan
1.
Memahami
pengertian seni.
2.
Memahami
fungsi seni.
3.
Memahami
peran seni sebagai media pembelajaran.
4.
Memahami
pendekatan berbasis disiplin ilmu dalam pendidikan seni rupa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Seni
Seni adalah ide, gagasan, perasaan, suara hati, gejolak
jiwa, yang diwujudkan atau diekspresikan, melalui unsur-unsur tertentu, yang
bersifat indah untuk memenuhi kebutuhan manusia, walaupun banyak juga karya
seni yang digunakan untuk binatang.
Kata “seni” adalah sebuah kata yang semua orang di pastikan
mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon kabarnya kata
seni berasal dari kata “SANI” yang kurang lebih artinya “jiwa yang luhur/
ketulusan jiwa.”
1. Dalam bahasa Sanskerta, kata seni
disebut cilpa. Sebagai kata sifat, cilpa berarti berwarna, dan kata jadiannya
su-cilpa berarti dilengkapi dengan bentuk-bentuk yang indah atau dihiasi dengan
indah. Sebagai kata benda ia berarti pewarnaan, yang kemudian berkembang
menjadi segala macam kekriaan yang artistik. Cilpacastra yang banyak
disebut-sebut dalam pelajaran sejarah kesenian, adalah buku atau pedoman bagi
para cilpin, yaitu tukang, termasuk di dalamnya apa yang sekarang disebut
seniman. Memang dahulu belum ada pembedaan antara seniman dan tukang. Pemahaman
seni adalah yang merupakan ekspresi pribadi belum ada dan seni adalah ekspresi
keindahan masyarakat yang bersifat kolektif. Yang demikian itu ternyata tidak
hanya terdapat di India dan Indonesia saja, juga di Barat pada masa lampau.
2. Dalam bahasa Latin pada abad
pertengahan, ada terdapat istilah-istilah ars, artes, dan artista. Ars adalah
teknik atau craftsmanship, yaitu ketangkasan dan kemahiran dalam mengerjakan
sesuatu; adapun artes berarti kelompok orang-orang yang memiliki ketangkasan
atau kemahiran; dan artista adalah anggota yang ada di dalam kelompok-kelompok
itu. Maka kiranya artista dapat dipersamakan dengan cilpa.
3. Kamus Modern Bahasa Indonesia dari
Mohammad Zain yang terbit sekitar tahun 1950, menerangan bahwa yang masuk seni
rupa ialah seni lukis, seni pahat dan seni patung. Memang hingga kini dalam
pemakaian populer, istilah "seni rupa" sering digunakan dengan
lingkup pengertian yang terbatas pada seni lukis, dan seni pahat atau seni
patung. Namun, pendidikan formal seni rupa di Indonesia dalam perkembangannya
telah memperluas lingkup pengertian istilah itu. Pendidikan tinggi seni rupa
dapat menyelenggarakan sejumlah keahlian seperti seni grafis atau desain grafis
atau komunikasi visual, desain industri atau desain produk, desain interior
atau arsitektur interior, desain tekstil, seni keramik, seni lukis, seni patung
dan kriya kayu, logam, kulit, keramik, dan sebagainya.
4.
I
Gsuti Bagus Sugriwa dalam tulisan "Dasar-dasar Kesenian Bali"
mengatakan bahwa seni berasal dari bahasa Sansekerta sani yang berarti
pemujaan, pelayanan, donasi, permintaan atau pencarian yang jujur. Seni menurut
WJS Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) yaitu suatu karya
yang dibuat atau diciptakan dengan kecapakan yang luar biasa seperti sajak,
lukisan, dan sebagainya. Atau kecakapan menciptakan sesuatu yang elok dan
indah.
5.
Herbert
Read (1962) mengatakan bahwa lahirnya sebuah karya seni melalui beberapa
tahapan sebagai suatu proses. Tahap pertama, pengamatan kualitas-kualitas bahan
seperti tekstur, warna dan banyak lagi kualitas fisik lainnya yang sulit untuk
didifinisikan. Tahap kedua, adanya penyusunan hasil dari pengamatan kualitas
tadi dan menatanya menjadi suatu susunan. Tahap ketiga, proses suatu
objektifikasi dari tahapan-tahapan di atas yang berhubungan dengan keadaan
sebelumnya. Keindahan yang berakhir pada tahapan pertama belum dapat disebut
seni, karena seni jauh telah melangkah ke arah emosi atau perasaan. Seni telah
mengarah pada ungkapan sebagai "pengekspresian" dengan tujuan untuk
komunikasi perasaan.
Pendapat
seni lainnya menurut para ahli diantaranya:
1.
Menurut
Alexander Baum Garton. Seni adalah keindahan dan seni adalah tujuan yang
positif menjadikan penikmat merasa dalam kebahagiaan.
2.
Emanuel
Kant. Seni adalah sebuah impian karena rumus rumus tidak dapat mengikhtiarkan
kenyataan.
3.
Menurut
Leo Tolstoy. Seni adalah menimbulkan kembali perasaan yang pernah dialami.
4.
Menurut
Aristoteles. Seni adalah bentuk pengungkapannya dan penampilannya tidak pernah
menyimpang dari kenyataan dan seni itu adalah meniru alam.
5.
Ki
Hajar Dewantara. Seni merupakan hasil keindahan sehingga dapat menggerakkan
persasaan indah orang yang melihatnya, oleh karena itu perbuatan manusia yang
dapat mempengaruhi dapat menimbulkan perasaan indah itu seni.
B. Fungsi
Seni
Manusia
sepanjang hidupnya tidak bisa dipisahkan dengan seni sebab seni adalah bagian
dari kehidupan manusia yang sama pentingnya dengan kebutuhan primer lainnya.
Suatu karya seni dapat berfungsi baik secara individual bagi penciptanya dan
penikmatnya, maupun secara sosial dalam kehidupan sehari – hari.
1.
Fungsi
Individual Seni
a.
Fungsi
individual seni untuk memenuhi kebutuhan rohani.
Setiap
individu pasti memiliki emosi dan tuntutan emosi itu perlu disalurkan supaya
tidak terjadi menjadi beban bagi dirinya. Bagi seorang seniman emosi itu dapat disalurkan melalui
kegiatan seni, seperti melukis mematung dan lain-lain. Karena seni adalah suatu
kegiatan yang melibatkan ekspresi yang mendalam, dan mengekspresikan perasaan
merupakan kegiatan rohaniah. Sedangkan bagi individu–individu lain yang bukan
seniman seni dapat berfungsi pula untuk memenuhi kebutuhan rohani yaitu dengan
cara menikmati (mengekspresikan) hasil karya seni, misalnya menonton film,
menyaksikan pertunjukan drama, mendengarkan musik atau mengunjungi pameran.
Kegiatan – kegiatan seperti itu dapat menimbulkan rasa keindahan atau kesenangan
batin dalam setiap individu
b.
Fungsi
individual seni untuk memenuhi kebutuhan jasmani.
Selain
karya seni murni, juga banyak karya seni pakai yang diciptakan oleh para
seniman atau pengrajin, seperti pakaian meubel, alat – alat dapur, perkakas dan
perhiasan. Secara individual karya seni tersebut dapat berfungsi fisik, karena
hasilnya dapat kita pergunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup sehari-hari.
2.
Fungsi
Sosial Seni
Suatu
karya seni memiliki nilai sosial apabila: Dapat mempengaruhi tingkah laku atau
tindakan masyarakat secara kolektif. Diciptakan untuk dilihat dan digunakan dalam suasana umum. Mencetuskan atau melukiskan aspek–aspek
eksistensi yang bersifat sosial atau kolektif sebagai kebalikan dari sesuatu
pengalaman individual. Dalam
kehidupan sehari–hari dapat kita jumpai karya seni diterapkan diberbagai
bidang, yaitu bidang rekreasi, komunikasi, pendidikan dan bidang agama:
a. Fungsi sosial seni dalam bidang
rekreasi.
Fungsi
ini yaitu, karya seni yang sengaja di sajikan sebagai sarana hiburan untuk
memberikan kesenangan atau kebahagiaan kepada masyarakat luas. Seperti; seni
pertunjukan atau pementasan wayang, orkes, sandiwara, dll.
b. Fungsi sosial seni dalam bidang
komunikasi.
Apabila
karya seni digunakan sebagai media untuk menyampaikan informasi kepada
masyarakat luas. Maka karya seni tersebut memiliki fungsi sosial dalam bidang
komunikasi. Misalnya informasi tentang wajib belajar sembilan tahun disispkan
lewat drama himbauan melestariakn lingkungan dituangkan dengan lagu, kritik
sosial digambarkan dengan karikatur dan sebaginya.
c. Fungsi sosial seni dalam bidang
pendidikan.
Peranan
seni dalam bidang pendidikan yaitu sebagai alat peraga untuk memperlancar
proses belajar supaya anak didik lebih mudah dan mengerti menerimanya. Misalnya
suatu peristiwa dalam sejarah disampaikan dengan fillm.
d. Fungsi sosial seni dalam bidang
agama.
Sejak
lahirnya kebudayaan, seni sudah berkaitan dengan fungsi sacral. Manusia percaya
terhadap adanya kekuatan–kekuatan gaib dilakukan dengan seni. Kemudian turunnya
agama–agama
pun mejadi seni sebagai kegiatan yang tak terpisahkan dari kegiatan keagamaan.
Misalnya memuja roh–roh nenek moyang atau para Dewa diwujudkan dengan patung.
Menyampaikan dakwah Islam dengan pertunjukan wayang atau drama.
C. Peran
Seni sebagai Media Pembelajaran
Seni memiliki peran sebagai media pendidikan salah satunya
yaitu sebagai alat peraga untuk memperlancar proses belajar supaya lebih mudah
memahaminya. Seni memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang
harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai
multikecerdasan yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal, interpersonal,
visual spasial, musikal, linguistik, logik matematik, naturalis serta
kecerdasan adversitas, kecerdasan kreativitas, kecerdasan spiritual dan moral,
dan kecerdasan emosional.
Bidang seni rupa, musik, tari, dan keterampilan memiliki
kekhasan tersendiri sesuai dengan kaidah keilmuan masing-masing. Dalam
pendidikan seni dan keterampilan, aktivitas berkesenian harus menampung
kekhasan tersebut yang tertuang dalam pemberian pengalaman mengembangkan
konsepsi, apresiasi, dan kreasi. Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi
elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat
yang beragam.
Misalnya didalam seni teater, pendidikan budi pekerti ini
sangat kentara dalam pemunculan karakter tokoh-tokoh yang dilakonkan.
Pembelajaran Seni Budaya ini tidak ingin mendidik siswa agar
menjadi seniman, melainkan agar siswa dapat lebih menghayati peran kehidupan
dalam mengarungi peradaban. Jika ia tertarik lebih dalam terhadap teater, ia
bisa memilih sanggar-sanggar teater di luar sekolah untuk menampung bakatnya
tersebut.
Contoh lainnya antara lain ramainya pergelaran seni baik
berupa show atau pergelaran seni pertunjukan maupun berupa pameran seni rupa yang terjadi selama masa
liburan sekolah belakangan ini, ternyata memberikan arti tersendiri bagi
kebersinambungan proses kependidikan yang selama tahun ajaran di bangku
sekolah.
Setidaknya, kependidikan akan arti nilai-nilai kehidupan dan
humaniora kepada generasi muda dan publik luas pada umumnya, bisa terus
berlanjut selalu meskipun di luar jam pelajaran sekolah Selalu ramainya publik
yang menjadi penonton dan pengunjung pergelaran atau helatan kesenian yang
dihelat selama masa liburan ini sudah cukup menjadi indikator betapa animo
publik begitu besar atas sarana pendidikan alternatif yang jauh lebih
enterteinis atau menghibur.
Berbagai macam materi dan disiplin ilmu sesungguhnya telah
tersirat maupun tersurat sebagai pesan moral dalam karya-karya kreatif kesenian
yang disajikan para kreator di panggung-panggung teater, film, musik dan tari
dan berbagai bentuk seni pertunjukan lainnya.
Atau di arena dan ruang-ruang pameran lukisan, fotografi,
otomotif, fashion, disain dan maket miniatur arsitektur, dan lain sebagainya
Helatan seni tersebut tidak saja tertumpu di pusat pagelaran seni. Keberadaan
mall dan swalayan pun yang lebih bersentuhan langsung dengan publik luas kini
pun mulai dilirik. Inilah efektif ekonomi kreatif yang tengah gencar di kampanyekan
pemerintah saat ini. Nilai-nilai-nilai kehidupan dan nilai-nilai keilmuan
dengan sendirinya termaktub dalam karya-karya seni yang tersajikan tersebut
sebagai pesan moral yang disampaikan sang kreator kepada audiensnya.
Saripati pandangan kreator itu pun berikutnya terserap
dengan sengaja maupun tidak oleh audiens untuk berikutnya jadi bahan referensi
pertimbangan-pertimbangan strategis kejiwaan mereka dalam menentukan sikap
ketika menghadapi berbagai persoalan hidupnya.
D. Pendekatan
Berbasis Disiplin Ilmu dalam Pendidikan Seni Rupa
Pendekatan seni rupa
berbasis disiplin ilmu (Dicipline Based
Art Education, disingkat DBAE) berintikan pemikiran bahwa seni telah hadir
dalam kehidupan bukan hanya sebagai kegiatan penciptaan, tetapi juga sebagai
cabang pengetahuan yang menjadi bahan kajian filosofis maupun
ilmiah dan berhak dipelajari di lembaga pendidikan. Seni adalah disiplin ilmu
yang khas dengan karakter yang dimilikinya, mendapat dukungan kelompok ilmuwan,
dikembangkan melalui penelitian.
Pendukung Pendidikan Seni
Rupa Berbasis Disiplin berpendapat bahwa Pendidikan Seni Rupa yang memberikan
kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan emosinya adalah penting, tetapi
jangan sampai mengabaikan kegiatan mempelajari aspek pengetahuan keilmuannya.
Cakupan pendidikan seni rupa diperluas. Eisner (1987/1988) menegaskan bahwa
Pendidikan Seni Rupa Berbasis Disiplin bertujuan untuk menawarkan program
pembelajaran yang sistematik dan berkelanjutan dalam empat bidang seni rupa
yang lazim dalam kenyataan yaitu bidang penciptaan, penikmatan, pemahaman, dan
penilaian. Keempat bidang tadi disampaikan dalam kegiatan belajar; produksi
seni rupa, kritik seni rupa, sejarah seni dan estetika. Anak hendaknya tidak
hanya diberi kesempatan untuk berekspresi/ menciptakan karya seni rupa tetapi
perlu juga mempelajari bagaimana caranya menikmati suatu karya seni rupa serta
memahami konteks dari sebuah karya seni rupa dari berbagai masa. Pelaksanaannya
tidak harus terpisah tetapi dapat dipadukan.
Pendidikan Seni Rupa
Berbasis Disiplin merupakan suatu pendekatan dan merupakan suatu metode yang
spesifik, maka wujud penampilannya dapat yang bervariasi. Yang jelas,
sasarannya adalah adanya peningkatan kemampuan anak dalam berbagai bidang
kegiatan tersebut.
Ciri DBAE adalah:
1. Seni
rupa sebagai subyek dalam pendidikan umum dengan kurikulum yang tertulis serta
disusun secara sistematis mencakup kegiatan ekspresi/kreasi, teori dan
kritik/apresiasi seni rupa untuk membangun pengetahuan, pemahaman dan
keterampilan.
2. Kemampuan
anak dikembangkan untuk menghasilkan karya, menganalisis, menafsirkan, dan
menilai kualitas karya, mengetahui dan memahami peran seni rupa dalam
masyarakat serta memahami keunikan karya seni rupa dan bagaimana orang
memberikan penilaian dan menguraikan alasan penilaian.
3. Seni
rupa diimplementasikan dengan dukungan masyarakat, staf pengembang, narasumber
dan program penilaian (Dobbs, 1992).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Seni adalah ide, gagasan, perasaan,
suara hati, gejolak jiwa, yang diwujudkan atau diekspresikan, melalui unsur-unsur
tertentu, yang bersifat indah untuk memenuhi kebutuhan manusia, walaupun banyak
juga karya seni yang digunakan untuk binatang.
2. Fungsi seni terdiri dari: fungsi individual seni dan
fungsi sosial seni.
3. Seni memiliki peran sebagai media
pendidikan yaitu sebagai alat peraga pembentukan pribadi peserta didik untuk
memperlancar proses belajar supaya lebih mudah memahaminya dengan memperhatikan
kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multikecerdasan.
4. Pendekatan
seni rupa berbasis disiplin ilmu (Dicipline
Based Art Education, disingkat DBAE) berintikan pemikiran bahwa seni
telah hadir dalam kehidupan bukan hanya sebagai kegiatan penciptaan, tetapi
juga sebagai cabang pengetahuan yang menjadi bahan kajian filosofis
maupun ilmiah dan berhak dipelajari di lembaga pendidikan.
B. Saran
1.
Guru
SD harus dapat memfasilitasi kesenian anak, supaya kreativitas yang dimiliki
anak berkembang dengan baik.
2.
Guru
harus memahami bahwa seni memiliki peran sebagai media pendidikan di SD.
3.
Guru
harus memahami hubungan antara seni dengan pelajaran yang lain dan paham
tentang cara membelajarkan seni kepada siswa SD, supaya anak merasa bahwa
pelajaran seni itu penting dalam kehidupan siswa dan berhak dipelajari di
lembaga pendidikan.
DAFTAR RUJUKAN
Pangesti, Tri. 2011. Makalah
Seni sebagai Media Pembelajaran, (online), http://tripangesti.blogspot.co.id/2011/02/makalah-seni-sebagai-media-pembelajaran.html, diakses 30 Oktober 2016.
Sulikah. 2012. Seni
sebagai Media Pendidikan, (online), http://sulikah26.blogspot.co.id/2012/07/seni-sebagai-media-pendidikan_22.html, diakses 30 Oktober 2016.
Aziz, Abdul. 2013. Pendekatan
Berbasis Disiplin Ilmu dan Pendekatan Kompetensi dalam Pendidikan Seni Rupa,
(online), http://sen1budaya.blogspot.co.id/2013/08/pendekatan-berbasis-disiplin-ilmu-dan.html, diakses 30 Oktober 2016.
Ningrum, Rindy, Nuristya. 2015. Makalah Konsep Dasar Pendidikan Seni, (online), http://rindynuristyaningrum.blogspot.co.id/2015/11/makalah-konsep-dasar-pendidikan-seni.html, diakses 30 Oktober 2016.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar